Showing posts with label religi. Show all posts
Showing posts with label religi. Show all posts

Saturday, 31 January 2015

Oleh: Ammar Fauzi Heryadi
 
Di dunia kita sekarang, kursi listrik sudah lama dikategorikan alat siksa yang paling tidak manusiawi. Sebelum listrik ditemukan, orang akan sulit membayangkan manusia terkejang-kejang, teriak secara bertahap dan meronta-ronta lalu sekarat di atas kursi besi. Tanpa ampun lagi, Amerika dikecam dunia lantaran negara itu paling banyak memproduksi alat siksa tersebut. Konon dalam legenda Yunani Kuno, kita temukan padanannya pada ranjang siksa milik Procrustes, perampok yang beroperasi di antara Magaru dan Athena. Untuk menghabisi korban, ia menidurkannya di atas ranjang tersebut untuk diukur sesuai panjangnya. Nah, jika tubuh  si korban lebih panjang dari ukuran ranjang, Procrustes akan memotong bagian kepala atau kakinya. Tapi bila lebih pendek, ia akan menarik dan menarik tubuhnya sampai seukuran ranjang itu.  Kursi listrik mungkin lebih mendekatkan bayangan kita dengan patung sapi yang dibuat raja Phalaris untuk menyiksa korbannya dengan memasukkannya ke dalam perut patung itu lalu membakarnya.


Boleh jadi ini tidak seberapa dibandingkan buku Serial Killers yang dihimpun oleh Joyce Robins dan Peter Arnold. Mereka bilang, bahwa inilah cerita nyata tentang para pembunuh yang paling biadab, hanya untuk membantu kita supaya lebih mudah membayangkan apa yang dilaporkan. Supaya lebih mudah membayangkan. Sesudah itu, bisakah kita membayangkan yang lebih biadab? Bisakah  kita secara lebih kejam mendekonstruksi dalam benak kita pemburuan Countess Elizabeth Bathory atas anak-anak gadis belia, membiarkan tubuh mereka sekarat, dikerat, dilubangi dan mati membusuk? Setelah kita menyaksikan penyiksaan Amerika atau Inggris di Guantenamo dan Abu Ghureib, bisakah kita menggubahnya secara lebih sadis lagi?

Sebaliknya dalam pembangunan peradaban yang maju, kebanyakan kita mungkin akan mengira orang jaman dulu akan terperangah setengah napas melihat keserbacanggihan dunia kita, persis saat para wartawan Olimpiade di Olympia terkagum-kagum menghitung kekayaan peradaban masa lampau; kadang digambarkan sebagai keajaiban  yang sulit dijabarkan dengan ilmu modern,  atau sebagai kehebatan membangun teknik akustik canggih di arena terbuka. Lalu, bisakah kita membayang lebih wah lagi dari semua itu? Selaras dengan kata Bertrand Rassell bahwa hasrat manusia itu tak terbatas, daya bayang dan imajiner kita pun begitu liar bahkan melampaui hal-hal yang mustahil secara matematis.

Benar kata Sigmund Frued, daya bayang begitu kuat berperan dalam kerja-kerja inovatif, menciptakan keunikan dan keluarbiasaan. Daya bayang dan bayangan di benak ini pula pernah dipetik oleh Allamah Thabathabai dalam memberikan pendekatan intuitif, pendekatan lewat mata hati mengenai kaitan kita dengan Tuhan, yakni seerat kaitan kita dan khayalan yang kita bayangkan sendiri. Seakan ia hendak mendorong kita untuk memutuskan sendiri dengan melibatkan diri dalam pendekatan itu.

Andaikan saja! Kita bayangkan di benak kita sosok Bush; kita bisa apakan saja; mau kita karikaturkan seganjil mungkin, mau kita dewakan segagah mungkin, bahkan kita bisa pupuskan dari benak kita kapan saja kita mau. Maka, kita punya kekuasaan penuh atas bayangan yang kita bayangkan. Bayangan Bush itu tidak bisa keluar dari kendali jiwa dan kekuatan imajiner kita. Di hadapan ikhtiyar kita, ia tidak punya apa-apa, sama sekali. Ia tidak punya kuasa dan hak memutuskan sendiri serta berdiri mandiri. Saking tidak ada apa-apanya, ia bahkan tidak bisa menerima hak dan izin dari kita untuk mandiri.

Barangkali masing-masing kita tidak pernah membayangkan bahwa bayangan yang kita ciptakan di benak akan meludah saat kita gubah, akan melotot saat kita jungkirbalikkan. Sepertinya kita begitu yakin pada pengalaman sepanjang ini, bahwa apapun khalayan di benak kita selalu patuh dan pasrah mutlak di hadapan kehendak dan keinginan kita. Bukan keajaiban bila Bush di benak kita laksana adonan di tangan yang siap menerima segala bentuk.

Coba kita lepaskan imajinasi kita untuk membayangkan Bush yang ada di benak itu menggeliat sendiri apalagi bertingkah seperti dia di Irak, membayangkan Condoleezza Rice sendiri melipstik merah bibir hitamnya sebelum berstrategi di tengah aula khayalan kita, membayangkan Collin Powell sendiri joget di atas lantai bayangan kita, tentu akan amat menjengkelkan kita daripada kejengkelan ketua partai atas ngelamak seorang kadernya. Dalam keadaan ini, kita bisa mengambil keputusan menindak mereka lebih dari kekejaman terakhir yang pernah kita bayangkan.

Allamah Thabathabai hendak mengingatkan kita, bahwa Jika kita sebegitu hebat dan kuasanya memperlakukan, mendatangkan dan melenyapkan bayangan di benak, dan jika bayangan di benak ini sebegitu lemah dan bergantungnya pada jiwa kita, bagaimana besarnya kehebatan dan kekuasaan Allah atas diri kita? Bagaimana dahsyatnya kelemahan dan ketakapa-apaan wujud kita di hadapan-Nya? Dan bagaimana ketatnya kelekatan dan kebergantungan hakikat kita pada Dzat-Nya?  Akankah kita mengira-ngira diri kita lebih kurangnya sama dengan kepapaan bayangan di benak kita, ataukah malah lebih hina dan tidak berharga lagi? Salahkah bila filsuf kita memaknai wujud kita bukan sekedar salah satu dari dua sisi hubungan, tetapi hubungan ketergantungan itu sendiri yang tidak mungkin berdiri mandiri, lepas dan bebas dari kemahakuasaan-Nya?

Dan, bisakah kita bayangkan apa yang akan dilakukan Allah terhadap gejala protes yang kita coba tunjukkan? Tidakkah ngelamak-nya kita, kekurangajaran kita dan kekerdilan kita lebih tolol daripada bayangan kita pada kita sendiri? Kita yang kalaulah tidak lebih remeh dari bayangan Bush atau Powell di benak kita ini, ternyata bisa tidak pasrah mutlak dan begitu konyol meludah serta melotot di atas  batas-batas Sang Pemilik Mutlak wujud kita. Apakah tersisa sedikit hak kita di hadapan keperkasaan-Nya? Sejak kapan kita mulai bicara hak dan hidup sendiri? Sampai kapan kita bicara tanggung jawab-Nya? Di sinilah letak keajaiban satu makhluk bernama manusia yang zalim dan bodoh, yang berbuat di dalam kehadiran Tuhan Yang Akbar. Sebegitu bodohnya hingga terkadang atau terbiasa kita malah berprasangka buruk pada-Nya, berputus asa dari rahmat-Nya. Nabi saw. bersabda, “Hati adalah takhta Allah, di hadapan takhta Allah jangalah bermaksiat!”.

Toh, Allah masih membiarkan kita berumur, memberi kita karunia yang melimpah dari dunia-Nya, meluangkan kita berbuat sebebas kehendak yang dianugerahkan-Nya, dan tidak menuntut kita lebih dari sekedar insaf dan bertaubat. Dalam rasa hancur kita, Dia meminta, “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah”. Dalam rasa puas kita, Dia menyuruh, “Bersyukurlah dan jangan menyia-nyiakan!”.

Hafiz Syirazi bergazal:

Kunanti kelembutan hadirat-Mu,

meski durjanaku

kan kuharap ampunan-Mu

Belas kasih Allah ini barangkali malah membingungkan para malaikat, “Akankah Engkau angkat mereka sebagai khalifah-Mu di bumi sementara merekalah yang melakukan pembunuhan dan pengrusakan?!”. Di sinilah letak keajaiban Sang Khaliq Yang Mahakasih Allah swt. Bagaimana Dia memperlakukan hamba-hamba-Nya, melebihi hasrat kasih seorang ibu pada timangannya.

Sepertinya, keterikatan hakikat diri kita pada wujud Tuhan tidak tunduk pada kategori bayangan. Saking ketat dan dahsyatnya keterikatan kita ini, begitu sulit kita dekonstruksikan dalam khayalan dan benak kita. Meski demikian, kita bisa menyaksikannya dengan sangat gamblang. Kebejatan, kehinaan, kebusukan, kekurangajaran maksiat kita di atas arasy kekuasaan Allah memang bukan bayangan, juga kemurahan, keramahan, kasih sayang dan kelembutan-Nya membalas semua itu  bukan pula bayangan, tetapi kenyataan yang bisa dihayati dan diresapi.

Dalam relung penghayatan itu, surga Allah adalah keindahan yang jauh lebih hebat  dari sekedar mengkhayalkan kecanggihan teknik akustik di Olympia itu, dan neraka Allah adalah siksa yang jauh lebih nista dari kekejaman yang bisa kita bayangkan di penjara Abu Ghureib sana. Masih dalam relung itu, surga yang dibukakan benar-benar persembahan, bukan imbalan atas amal baik seorang hamba, dan neraka yang dijanjikan sungguh balasan yang tidak lebih besar dari maksiatnya. Bagaimana manusia sesempurna Ali bin Abi Thalib  itu meratap, “Ilahi, janganlah Engkau dudukkan aku di hadapan keadilan-Mu, namun perlakukan aku dengan kemurahan dan belas kasih-Mu”.

Maka, ada yang mesti kita luruskan yang di atas tadi, bahwa ada banyak kenyataan yang tidak tergubah oleh kekuatan khayal dan ke-liaran bayangan kita. Bahwa kita sungguh bisa melihat keperkasaan, kelembutan dan kasih sayang Allah. Dalam Munajat Tiga Kata, Ali bin Abi Thalib memanjatkan, “Ilahi, betapa besar kemuliaan padaku saat aku menjadi hamba untuk-Mu. Ilahi, betapa besar kebanggaan padaku saat Engkau menjadi Tuhan untukku”.

Sebaliknya, kita pun bisa melihat ketakapa-apaan, kehinaan dan kekurangajaran kita di hadapan Allah. Dalam doa Kumail, Ali kembali membacakan untuk kita, “Duhai Tuanku, begitu banyak keburukan yang kulakukan…dan  begitu banyak sanjungan indah yang bukan milikku namun Kau tebarkan”.

Kalaulah kita sudah putus asa terhadap penjabaran matematis kaum filsuf atas kenyataan itu, atau terhadap  kiasan puitis kaum arif, sungguh kita masih bisa melihatnya dari dalam diri kita sendiri, secara lebih tajam. Tidak dengan imajinasi, tidak dengan akal, tidak pula dengan kata-kata dan pengajaran. Dengan segenap tingkat keawaman, masing-masing kita menyimpan mata hati yang sanggup melakukan penghayatan sejernih mungkin. Bersama Imam Khomeini, mari kita ikrarkan, “Dunia ini adalah aula Tuhan, di dalam aula Tuhan janganlah bermaksiat!”.[]

Perkara bahwa nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir, adalah perkara yang sudah pasti dan diyakini oleh semua umat Islam. Setelah risalah beliau tidak akan ada lagi nabi yang diutus Tuhan. Banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan masalah ini, misalnya ayat 41 dan 42 surah Al Furqan, ayat 19 surah Al An’am, ayat 28 surah Saba’, dan seterusnya. Begitu pula riwayat-riwayat yang tak terhitung jumlahnya menjelaskan akidah umat Islam yang satu ini, baik dari kalangan Ahlu Sunah maupun Syiah.




Ada sebuah dialog antara seorang Muslim dengan orang Baha’i. Silahkan anda menyimaknya:

Muslim: “Sebagaimana yang kalian nyatakan, kalian menerima kebenaran Islam dan Al Qur’an. Hanya saja kalian meyakini bahwa setelah Islam ada ajaran lain yang menghapus ajaran Islam. Aku ingin bertanya kepada kalian, bukankah banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa Islam adalah agama terakhir dan global hingga akhir jaman?”

Baha’i: “Misalnya ayat apakah itu?”

Muslim: “Di ayat ke-40 surah Al Ahzab Allah swt berfirman:

“Bukanlah Muhammad itu ayah seseorang dari kalian, namun ia adalah utusan Allah dan nabi terakhir. Dan sesungguhnya Allah maha tahu akan segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 40)

Kata “khatamun nabiyyin” di ayat itu menjelaskan bahwa nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir yang diutus Allah swt. Karana kata “khatm” itu berarti akhir dan yang mengakhiri. Jadi tidak ada nabi lain setelah Rasulullah saw yang membawa ajaran baru.”

Bahai: “Khatam berarti cincin yang menjadi hiasan jari. Oleh karena itu yang dimaksud ayat tersebut adalah Rasulullah saw merupakan penghias nabi-nabi.”

Muslim: “Semua ahli tafsir mengakui bahwa arti “khatam” di ayat itu adalah “pengakhir” atau “yang terakhir”, bukan cincin. Karena menurut ahli bahasa, kata khatam tidak pernah diungkapkan untuk mensifati manusia. Kata “khatam” yang berarti cincin itu pun pada mulanya berarti “pengakhir”, bukan cincin itu sendiri. Karena cincin sering digunakan sebagai stempel untuk mengakhiri surat, maka cincin disebut “khatam”.

Coba lihat pendapat para ahli bahasa tentang arti “khatam”:

Fairuzabadi dalam kitab Qamus Al Lughah berkata: “Khatm berarti mengecap dengan stempel. Juga berarti mengakhiri sesuatu, atau sesuatu telah sampai pada akhirnya.”

Jauhari dalam kitab bahasanya Shihah berkata: “Khatm berarti sampai di akhir.”

Ibnu Manzur dalam kitabnya Lisanul Arab berkata: “Katamul Qaum berarti orang terakhir pada suatu kaum. Sedang Khatamun Nabiyyin adalah nabi yang terakhir.”

Raghib dalam kitabnya Al Mufradat berkata: “Khatamun Nabiyyin yakni Rasulullah saw dengan kedatangannya telah menutup risalah kenabian dan mengakhirinya.”

Jadi, yang dimaksud dengan kata “khatam” dalam ayat tersebut adalah “terakhir”, bukan “hiasan” sebagaimana yang kalian yakini.”

Baha’i: “Kata “khatam” memang benar disebut unutk cincin yang mengakhiri suatu surat karena berlaku sebagai stempel yang biasa dipakai orang-orang saat itu. Maka benar artinya nabi Muhammad adalah nabi yang membenarkan nabi-nabi sebelumnya sebagaimana stempel membenarkan isi surat di atasnya.”

Muslim: “Dari segi bahasa dan percakapan dalam bahasa Arab, kata “khatam” tidak pernah digunakan sebagai pembenar sebagaimana yang kalian maksud. Kalau kalian katakan maksud “khatam” adalah “yang mengakhiri”, sebagaimana stempel itu mengakhiri sebuah surat, maka itu benar, dan artinya nabi adalah utusan Tuhan yang mengakhiri nabi-nabi.”

Baha’i: “Ayat yang kau baca menyebut Rasulullah saw sebagai “khatamun nabiyyin”, yakni akhir para nabi; ayat itu tidak mengatakan beliau adalah akhir para rasul. Jadi mungkin saja ada rasul yang datang setelah beliau meskipun tidak ada nabi lain yang datang setelahnya!”

Muslim: “Meskipun dalam Al Qur’an antara nabi dan rasul memiliki arti yang berbeda, misalnya Rasulullah saw menyebut nabi Ismail as sebagai nabi namun menyebut nabi Musa as sebagai rasul, namun masalah ini tidak bisa menjadi syubhat untuk permasalahan “khatamun nabiyyin”, karena nabi yang dimaksud adalah nabi yang diutus dari sisi Tuhan dan diberi wahyu oleh-Nya, entah diperintahkan untuk menyampaikannya ataupun tidak, sedangkan rasul adalah nabi yang diberi wahyu lalu diperintahkan untuk menyampaikannya. Jadi semua rasul adalah nabi, dan tidak semua nabi adalah rasul. Dengan demikian ayat tersebut mencakup para rasul. Ketika difirmankan tidak akan ada nabi setelah Rasulullah saw, maka artinya rasul pun tidak akan diutus setelah itu; sebagaimana yang sudah dijelaskan, rasul adalah nabi.”

Baha’i: “Penjelasan tentang nabi dan rasul begini: setiap kali ada nabi, maka tidak ada rasul, dan setiap kali ada rasul, tidak ada seorang nabi. Jadi apa yang kukatakan benar.”

Muslim: “Pengertian seperti itu bertentangan dengan pendapat para ulama dan ayat serta riwayat. Buktinya ayat di atas menyebut nabi Muhammad saw sebagai rasul dan juga nabi. Ia berfirman: “Tetapi ia adalah utusan Allah (Rasulullah) dan nabi terakhir.” Banyak pula riwayat yang menjelaskan bahwa beliau juga “khatamul mursalim”, yakni akhir para rasul, akhir para utusan Tuhan. Jadi tidak benar apa yang kalian katakan.”

Baha’i: “Mungkin saja maksud “khatamun nabiyyin” adalah beliau merupakan pengakhir nabi-nabi tertentu saja. Bisa jadi yang dimaksud “para nabi” bukanlah semua nabi.”


Muslim: “Lucu sekali pernyataan itu. Karena orang yang kurang lebih bisa bahasa Arab ketika membaca “an nabiyyin”, yang mana kata itu adalah jamak dan memiliki alif dan lam di sebelumnya, akan memahami bahwa kata itu umum, yang artinya mencakup seluruh nabi.”

Thursday, 29 January 2015

Bismillahirrahmanirrahim...
Nukilan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut memberikan kita pelajaran agar tidak berlaku "UJUB". Sifat ujub membuat amalan yang kita lakukan seakan-akan sirna. Akibat itu, neraka pun yang bisa jadi ancaman. Sehingga beramal baik pun selamanya tidak berujung baik. Bisa jadi ujungnya adalah seperti ini karena rasa UJUB dalam diri.




Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Sebagian ulama salaf, di antaranya Sa’id bin Jubair berkata,

إنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَيَدْخُلُ بِهَا النَّارَ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَيَدْخُلُ بِهَا الْجَنَّةَ يَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَيُعْجَبُ بِهَا وَيَفْتَخِرُ بِهَا حَتَّى تُدْخِلَهُ النَّارَ وَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَلَا يَزَالُ خَوْفُهُ مِنْهَا وَتَوْبَتُهُ 
مِنْهَا حَتَّى تُدْخِلَهُ الْجَنَّة
Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal kebaikan malah ia masuk neraka. Sebaliknya ada pula yang beramal kejelekan malah ia masuk surga. 

“Yang beramal kebaikan tersebut, ia merasa ujub (bangga dengan amalnya), lantas ia pun berbangga diri, itulah yang mengakibatkan ia masuk neraka. 

Ada pula yang beramal kejelekan, namun ia senantiasa takut (akan adzab Allah) dan ia iringi dengan taubat, itulah yang membuatnya masuk surga.

Semoga jadi pelajaran berharga di pagi ini. Semoga Allah melindungi kita dari sifat ujub dalam beramal. Terhadap dosa, moga-moga Allah menerima taubat kita dengan kita isi hari-hari yang ada dengan amalan sholih”

Begitupun juga ketika kita membaca buku Syarah Arba’in An Nawawiyah, kita mendapatkan beberapa penjelasan menarik dari Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin terhadap hadits yang berbunyi,

Sesungguhnya salah seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya satu hasta, lalu dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga dia memasukinya” .

“Dan salah seorang di antara kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli neraka, hingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya sehasta, lalu dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan ahli surga hingga dia memasukinya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Mungkin sebagian kita bertanya?

“Bagaimana mungkin seseorang yang selama ini telah beramal dengan amalan ahli neraka bisa masuk surga?”

Inilah hikmah dari Allah Subhanahu wata’ala. Syaikh menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa seorang manusia tidak sepantasnya berputus asa, karena bisa jadi seseorang melakukan kemaksiatan dalam waktu yang lama kemudian Allah memberikan hidayah kepadanya, sehingga ia bisa mendapatkan petunjuk di akhir hayatnya.

Jadi jangan merasa pesimis. Bertaubatlah dan jalankan ketaatan kepada Allah meski sebelumnya kemaksiatan telah menggerogoti sepanjang hidup Anda. Semoga dengan demikian Allah akan memberikan husnul khatimah (akhir yang baik) bagi kehidupan kita. Amiiiin……

(Sumber: Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, 10/294/abimantrono)
Masa Muada adalah Masa yang penuh warna, ceria dan penuh rasa bangga. Namun, pantaskah kita sebagai manusia untuk bersikap sombong???
ada deskripsi mudah, apakah kita layak untuk sombong.....


Bumi dan Planet Planet Tata Surya


“ALAM SEMESTA INI BEGITU BESAR. NAMUN ALLAH SELAKU PENCIPTA JAUH LEBIH BESAR. MAHA BESAR ALLAH TUHAN PENCIPTA ALAM! MAKA BERTASBIHLAH KEPADA ALLAH!”

Bumi yang kelilingnya 40.000 km ini sangat besar bagi kita. Untuk pergi ke Amerika atau Afrika saja jauh sekali. Apalagi jika sampai harus ke Antartika. Tapi coba kita lihat besar Bumi kita dengan ciptaan Allah lainnya. Ternyata tidak ada apa-apanya. Bahkan bintang yang terbesar pun hanya satu titik dibanding Galaksi, Cluster, Super Cluster, Jagad Raya. Tapi di atas semua itu kita harus yakin bahwa Allah pencipta Semesta Alam jauh lebih besar dari semua itu. Allah Maha Besar!

Ukuran Bumi dibanding Planet Jupiter Ukuran Bumi dibanding Matahari. Diameter (lebar) matahari 1.391.980 km. Jika bumi “dimasukkan” ke matahari, ada 1,3 juta bumi yang bisa masuk. Ukuran Matahari dibanding Bintang Arcturus Ukuran Matahari dibanding Bintang Antares. Saat ini bumi sudah tidak bisa dilihat lagi. Diameter Antares 804.672.000 km. Kalau anda menganggap Antares sudah sangat besar, ternyata bintang itu masih belum apa-apa dibanding dengan galaksi seperti Galaksi Bimasakti yang terdiri dari ratusan milyar bintang dengan lebar hingga 100 ribu tahun cahaya (1 detik cahaya=300.000 km).

Galaksi itu pun tidak seberapa jika dibanding dengan Cluster (Kumpulan) Galaksi yang terdiri dari ribuan Galaksi. Tapi di atas Cluster masih ada Super Cluster yang terdiri dari ribuan Cluster. Ribuan Super Cluster akhirnya membentuk jagad raya. Saat ini diperkirakan Jagad Raya (Universe) lebarnya 30 milyar tahun cahaya. Tapi ini cuma angka sementara mengingat teleskop tercanggih saat ini “cuma” bisa mencapai jarak 15 milyar tahun cahaya! Ini baru langit ke 1. Belum langit ke 2, langit ke 3, hingga langit ke 7 di mana saat Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad sampai hingga ke sana. Jika dunia ini begitu luas, maka Allah menegaskan bahwa akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Jauh lebih luas lagi dari dunia!

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [Al Baqarah 255]  -

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!